Kehidupan manusia yang terjadi saat ini telah melalui proses yang panjang dari kehidupan yang ada sebelumnya. Mulai dari teori bahwa teori tentang bahwa keadaan bumi pada mulanya ada satu kesatuan benua yang disebut dengan pangaea. Sehubungan dengan hal tersebut Noor (2012: 27-41) revolusi dalam ilmu pengetahuan kebumian sudah dimulai sejak awal abad ke 19, yaitu ketika munculnya suatu pemikiran yang bersifat radikal pada kala itu dengan mengajukan hipotesa tentang benua benua yang bersifat mobil yang ada di permukaan bumi. Sebenarnya teori tektonik lempeng sudah muncul ketika gagasan mengenai hipotesa Pengapungan Benua (Continental Drift) diperkenalkan pertama kalinya oleh Alfred Wegener (1915) dalam bukunya “Die Entstehung der Kontinente und Ozeane” atau “The Origins of Oceans and Continents”.  Wegener menggunakan fitur-fitur alam, fosil, dan iklim sebagai bukti untuk mendukung hipotesisnya tentang continental drift. Contoh dari fitur alam alam yang digunakan adalah posisi antar gunung di Afrika dan Amerika Selatan yang sejajar; juga keberadaan batubara di Eropa cocok dengan keberadaan batubara di Amerika Utara.

Wegener juga mencatat bahwa fosil reptil seperti Mesosaurus dan Lystrosaurus ditemukan di tempat yang sekarang terpisahkan oleh lautan. Seiring dengan kemungkinan bahwa reptil tersebut telah berenang dengan jarak yang sangat jauh, Wegener yakin bahwa reptil-reptil tersebut pernah hidup pada satu daratan yang kemudian terpisah atau terbagi-bagi. Tahun 1912 Wegener menerbitkan teori “Continental Drift”, yang menyebutkan bahwa semua kontinen pada awalnya merupakan satu kesatuan dan kemudian karena pergerakannya kontinen tersebut terbagi menjadi beberapa bagian yang kemudian bermigrasi (drifted) ke posisi seperti saat ini. Pada tahun 1915, dalam The Origin of Continents and Oceans (Die Entstehung der Kontinente und Ozeane), Wegener mempublikasikan teori bahwa dahulu pernah ada satu superkontinen, yang di kemudian hari dinamakannya “Pangaea” yang berarti “Semua Daratan.

Selanjutnya hipotesa pemekaran lantai samudra Harry Hammond Hess (24 Mei  1906 – 25 Agustus  1969) adalah seorang ahli geologi laut yang bekerja sebagai perwira angkatan laut Amaerika pada perang dunia ke 2. Pada tahun 1934 bergabung dengan Universitas Princeton yang kemudian menjadi  ketua departemen geologi.  Pada tahun 1960 Harry Hess mengemukakan  hipotesa pemekaran lantai samudra dalam tulisannya yang berjudul “Essay in geopoetry describing evidence for sea-floor spreading”. Dalam tulisannya diuraikan mengenai bukti-bukti adanya pemekaran lantai samudra yang terjadi di pematang tengah samudra (mid oceanic ridges), Guyots, serta umur kerak samudra yang lebih muda dari 180 juta tahun.

Hipotesa pemekaran lantai samudra pada dasarnya adalah suatu hipotesa yang menganggap bahwa bagian kulit bumi yang ada di dasar samudra Atlantik tepatnya di Pematang Tengah Samudra mengalami pemekaran yang diakibatkan oleh gaya tarikan (tensional force) yang digerakan oleh arus konveksi yang berada di bagian mantel bumi (astenosfir). Akibat dari pemekaran yang terjadi disepanjang sumbu Pematang Tengah Samudra, maka magma yang berasal dari astenosfir kemudian naik dan membeku. Pergerakan lantai samudra (litosfir) ke arah kiri dan kanan di sepanjang sumbu pemekaran  Pematang Tengah Samudra lebih disebabkan oleh arus konveksi yang berasal dari lapisan mantel bumi (astenosfir). Arus konveksi inilah yang menggerakan kerak samudra (lempeng samudra) yang berfungsi sebagai ban berjalan (conveyor-belt).

Berikutnya adalah teori tektonik lempeng Teori tektonik lempeng adalah suatu teori yang menjelaskan mengenai sifat-sifat bumi yang mobil/dinamis yang disebabkan oleh gaya endogen yang berasal dari dalam bumi. Dalam teori tektonik lempeng dinyatakan bahwa pada dasarnya kerak-bumi (litosfir) terbagi dalam 13 lempeng besar dan kecil. Adapun lempeng-lempeng tersebut adalah sebagai berikut: (1) lempeng Pasific (Pasific plate), (2) empeng Euroasia (Eurasian plate), (3) lempeng India-Australia (Indian-Australian plate), (4) Lempeng Afrika (African plate), (5) lempeng Amerika Utara (North American plate), (6) lempeng Amerika Selatan (South American plate), (7) lempeng Antartika (Antartic plate), (8) lempeng Nasca (Nasca plate), (9) lempeng Arab (Arabian plate), (10)  lempeng Karibia (Caribian plate), (11) lempeng Philippines (Phillippines plate), (12) lempeng Scotia (Scotia plate), (13) lempeng Cocos (Cocos plate).

Selanjutnya mengenai Tatanan tektonik yang ada disuatu wilayah sangat dipengaruhi oleh posisi tektonik yang bekerja di wilayah tersebut. Sebagaimana sudah dijelaskan pada sub bab sebelumnya, interaksi antar lempeng yang terjadi pada batas-batas lempeng konvergen, divergen dan transform akan  menghasilkan tatanan tektonik tertentu. Tatanan tektonik yang terjadi pada batas lempeng konvergen, dimana lempeng samudra dan lempeng samudra saling bertemu akan menghasilkan suatu rangkaian busur gunungapi (volcanic arc) yang arahnya sejajar atau simetri dengan arah palung (trench). Cekungan Busur Belakang (Back Arc Basin) berkembang dibagian belakang busur gunungapi. Contoh kasus dari model ini adalah rangkaian gunungapi di kepulauan Philipina yang merupakan hasil tumbukan lempeng laut Philipina dengan lempeng samudra Pasifik. Pada batas lempeng konvergen, dimana terjadi tumbukan antara lempeng samudra dan lempeng benua, maka tatanan tektoniknya dicirikan oleh Palung (Trench), Prisma Akresi (Accretion Prism), Cekungan Busur Muka (Fore arc Basin), Busur Kepulauan Gunungapi (Volcanic Island Arc), dan Cekungan Busur Belakang (Back arc Basin). Contoh klasik dari batas lempeng konvergen, dimana terjadi tumbukan antara lempeng samudra dan lempeng benua adalah kepulauan Indonesia, khususnya jalur pulau-pulau: Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan berakhir di kepulauan Banda.

Batas konvergensi antara lempeng India-Australia dan lempeng benua Eurasia (pulau Sumatra). Kedua lempeng dibatasi oleh suatu lajur yang dikenal sebagai Palung Laut Subduksi (Subduction Trench) yang merupakan hasil subduksi antara kedua lempeng tersebut diatas, tatanan tektonik pulau Sumatra yang tersusun dari Prisma Akrasi atau Accretionary Wedge (Pulau Siemelue, P.Nias, Pulau Telo, Pulau Engganau, Pulau Batu, Pulau Mentawai); Cekungan Busur Luar atau Muka (Fore arc Basin); Busur Gunungapi (Volcanic Arc) dan Cekungan Busur Belakang (Back arc Basin). Batas lempeng konvergen yang berupa batas suture dapat kita lihat antara pertemuan lempeng benua India dengan lempeng benua Eurasia. Kedua lempeng tersebut dibatasi oleh suatu jalur pegunungan yang dikenal dengan pegunungan Himalaya.. Tatanan tektonik pada batas lempeng Divergen, dimana lempeng benua mengalami pemekaran (continental rifting) dengan terbentuknya laut baru dapat kita lihat terutama di Pematang Tengah Samudra (Pemisahan Benua Amerika dan Afrika), Laut Merah (Benua Afrika dan Semenanjung Sinai atau Jazirah Arab) serta Rifting yang terjadi di Afrika Timur Bagian Utara.

Lebih lanjut Noor (2012: 5-9) mengenai skala waktu geologi. Pada dasarnya bumi secara konstan berubah dan tidak ada satupun yang terdapat diatas permukaan bumi yang benar-benar bersifat permanen. Bebatuan yang berada diatas bukit mungkin dahulunya berasal dari bawah laut. Oleh karena itu untuk mempelajari bumi maka dimensi “waktu” menjadi sangat penting, dengan demikian mempelajari sejarah bumi juga menjadi hal yang sangat penting pula. Ketika kita berbicara tentang catatan sejarah manusia, maka biasanya ukuran waktunya dihitung dalam tahun, atau abad atau bahkan puluhan abad, akan tetapi apabila kita berbicara tentang sejarah bumi, maka ukuran waktu dihitung dalam jutaan tahun atau milyaran tahun. Waktu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia sehari-hari.

Catatan waktu biasanya disimpan dalam suatu penanggalan (kalender) yang pengukurannya didasarkan atas peredaran bumi di alam semesta. Sekali bumi berputar pada sumbunya (satu kali rotasi) dikenal dengan satu hari, dan setiap sekali bumi mengelilingi Matahari dikenal dengan satu tahun. Sama halnya dengan perhitungan waktu dalam kehidupan manusia, maka dalam mempelajari sejarah bumi juga dipakai suatu jenis penanggalan, yang dikenal dengan nama “Skala Waktu Geologi”.  Skala Waktu Geologi berbeda dengan penanggalan yang kita kenal sehari-hari. Skala waktu geologi dapat diumpamakan sebagai sebuah buku yang tersusun dari halaman-halaman, dimana setiap halaman dari buku tersebut diwakili oleh batuan. Beberapa halaman dari buku tersebut kadang kala hilang dan halaman buku tersebut tidak diberi nomor, namun demikian kita masih dapat membaca buku tersebut karena ilmu geologi menyediakan alat kepada kita untuk membantu membaca buku tersebut. Terdapat 2 skala waktu yang dipakai untuk mengukur dan menentukan umur Bumi.

Pertama, adalah Skala Waktu Relatif, yaitu skala waktu yang ditentukan berdasarkan atas urutan perlapisan batuan-batuan serta evolusi kehidupan organisme dimasa yang lalu; Kedua adalah Skala Waktu Absolut (Radiometrik), yaitu suatu skala waktu geologi yang ditentukan berdasarkan pelarikan radioaktif dari unsur-unsur kimia yang terkandung dalam bebatuan. Skala relatif terbentuk atas dasar peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam perkembangan ilmu geologi itu sendiri, sedangkan skala radiometri (absolut) berkembang belakangan dan berasal dari ilmu pengetahuan fisika yang diterapkan untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang timbul dalam bidang geologi.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa perkembangan kehidupan bumi mulai dari Wegener mempublikasikan teori bahwa dahulu pernah ada satu superkontinen, yang di kemudian hari dinamakannya “Pangaea” yang berarti “Semua Daratan”. Selanjutnya adalah munculnya hipotesa pemekaran lantai samudra yang dibukutikan dengan adanya pemekaran lantai samudra yang terjadi di pematang tengah samudra (mid oceanic ridges), Guyots, serta umur kerak samudra yang lebih muda dari 180 juta tahun. Berlanjut dengan teori tektonik lempeng dan juga tatanan tektonik. Lebih lanjut mengenai perkembangan kehidupan bumi juga dikaji tentang skala waktu geologi yang terbagi menjadi skala waktu relatif dan juga skala waktu absolut. Dimana masing-masing waktu tersebut memiliki teknik perhitungannya masing-masing.

Ilustrasi untuk perkembangan kehidupan di bumi tersebut dapat disimak melalui video di bawah ini:

DAFTAR PUSTAKA:

Noor, D. 2012. Pengantar Geologi. Bogor: Pakuan University Press.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *